Islam Kaffah

islam-kaffah-2_208

sumber gambar: google (2.bp.blogspot.com)

 

oleh: Sri Lestari linawati

 

  1. PENDAHULUAN

Seorang lelaki menemui Rasulullah SAW dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah bersabda, ”Akhlak yang baik”. Kemudian ia mendatangi Nabi dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah bersabda, “Akhlak yang baik”. Kemudian ia mendatangi Nabi dari sebelah kirinya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah bersabda, ”Akhlak yang baik”. Kemudian ia mendatangi Nabi dari belakangnya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah bersabda, ”Belum jugakah engkau mengerti? Agama itu akhlak yang baik. Sebagai misal, janganlah engkau marah”. (At-Targhib wa at-Tarhib 3: 405)[2]

Asyura. Di Iran, bulan Muharram tahun 1978. Ribuan manusia, laki-laki dan perempuan, berkumpul di sejenis mushalla, yang disebut Husainiyyah. Ketika dibacakan kisah terbantainya Imam Husain, cucu Nabi, mereka menjerit, meraung, dan memukuli dada mereka. Dari tempat acara, mereka bergerak ke pusat kota, melakukan demonstrasi terbesar dalam sejarah Iran. Mereka siap menumpahkan darahnya untuk membela orang-orang tertindas; dengan begitu, mereka juga mempersiapkan revolusi terbesar pada abad ke-20[3].

Lanjutkan membaca Islam Kaffah

Metode Penelitian Kualitatif: PENGAMATAN TERLIBAT

participant observation

 

METODE PENELITIAN KUALITATIF: PENGAMATAN TERLIBAT

oleh: Sri Lestari Linawati

Dalam Pengumpulan Data, manusia/peneliti merupakan instrument pokok. Teknik pengumpul data sangat tergantung kepada peneliti ketika berinteraksi dengan pelaku. Pada saat pengumpulan data dilakukan pengamatan. Pengamatan yaitu peninjauan dengan cermat. Berasal dari istilah bahasa Inggris  ”observation”, pengamatan merupakan suatu kegiatan peneliti untuk menangkap gejala-gejala dari obyek yang diamati dengan cara mencermati langsung secara visual terhadap obyek penelitian. Dengan perkataan lain, pengamatan adalah kegiatan melakukan, memperhatikan dengan seksama akan suatu obyek yang diteliti secara komprehensif. Dalam hal ini peneliti memanfaatkan pancainderanya (terutama penglihatan, pendengaran) dalam mencermati dengan seksama obyek penelitian.

Pengamatan terlibat disebut sebagai partisipatory observer, yaitu kehadiran peneliti secara langsung dengan semua pancaindera dalam berhadapan dengan obyek penelitiannya. Dengan demikian pengamatan adalah menggunakan pancaindera peneliti untuk menyaksikan dengan seksama/cermat dan kemudian mencatat-merekam peristiwa apa saja yang terjadi terkait dengan obyek sasaran pengamatan. Pengetahuan peneliti akan masalah yang diteliti, sangat bermanfaat dalam menangkap gejala yang diamati, untuk dapat menafsirkan gejala yang bersangkutan.

Lanjutkan membaca Metode Penelitian Kualitatif: PENGAMATAN TERLIBAT

PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH DAN ISLAM DI MESIR

PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH DAN ISLAM DI MESIR

 

muhammad abduh dan masjid Al_Azhar1

Muhammad Abduh dan Masjid Al-Azhar Kairo Mesir.

 

PENDAHULUAN

Memajukan peradaban berarti terlebih dulu musti mempelajari sejarah para pendahulu kita, bagaimana para pemikir dan orang-orang besar dalam sejarah membangunnya. Mesir memiliki sejumlah nama yang mempengaruhi nama bangsanya, diantaranya Napoleon, Muhammad Ali Pasya, Al-Tahtawi, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha.

Tulisan ini mengangkat pemikiran Muhammad Abduh bagi peradaban Mesir. Penulis tertarik menampilkannya sebagai tugas akhir Sejarah Peradaban dan Pemikiran Islam karena unik. Seorang anak yang diharapkan pintar oleh orang tuanya, sang anak ternyata cerdas, seorang anak yang bercita-cita menjadi petani, seorang anak yang mengalami pergulatan batin antara mencapai cita-citanya ataukah menuruti kehendak orang tua,

Lanjutkan membaca PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH DAN ISLAM DI MESIR

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

ditulis secara bersama oleh: Jamadi, Ida Zuznani dan Sri Lestari Linawati  

 

PENDAHULUAN

Model-model pengembangan kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan pengembangan kurikulum. Sungguh sangat naif bagi para pelaku pendidikan di lapangan terutama guru. kepala sekolah, pengawas bahkan anggota komite sekolah jika tidak memahami dengan baik keberadaan, kegunaan dan urgensi setiap model-model pengembangan kurikulum.

Mengapa guru dituntut untuk mengetahui konsep-konsep tentang kurikulum, dalam hal ini model-model pengembangan kurikulum? Karena pemahaman tentang kurikulum merupakan salah satu unsur kompetensi pedagogik yang harus dimilki oleh seorang guru, sesuai dengan bunyi pasal 10, Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mengatakan “bahwa kompetensi guru mencakup kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional”.

Lanjutkan membaca MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

PERAN SD NEGERI KANOMAN GAMPING DIY DALAM PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT

SDN Kanoman

SD Negeri Kanoman, Banyuraden, Gamping Sleman DIY

 

Pengantar

Enam belas tahun sudah saya tinggal di dusun Kanoman dan mengikuti berbagai dinamika di dalamnya. Mengurus TPA (Taman Pendidikan Alqur’an), mengikuti arisan dasawisma dan arisan RT sebagai prasyarat hidup bermasyarakat, mengelola Sekolah Balita ‘BirruNA’, aktif dalam pembinaan kader Posyandu dan BKR (Bina Keluarga Remaja), hingga bergabung sebagai guru bantu SDN Kanoman, dilanjutkan sebagai Komite sejak tahun 2010-sekarang. Pelajaran berharga yang saya dapat adalah sebagaimana pernyataan Nelson Mandela, bahwa “Pendidikan adalah senjata paling dahsyat yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia.”

Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Dedy, bahwa  “Pendidikan harus mampu menyatukan sikap, pemikiran, perilaku, hati nurani, dan keimanan menjadi satu kesatuan yg utuh”[1]. Artinya, pendidikan memiliki nilai strategis dalam perubahan social budaya masyarakat. Karenanya, merupakan keniscayaan untuk mengkaji pendidikan dalam konteks perubahan sosial budaya masyarakat. Saya tertarik tawaran PCIM Rusia untuk memetakan/ merumuskan solusi bagi bangsa dan Negara Indonesia, dengan menuangkan pengalaman, kegelisahan dan harapan saya bagi kemajuan Kanoman. POTRET INDONESIA 2014 perlu segera dirumuskan oleh segenap warga bangsa. Filosofi budaya Jawa “ngono yo ngono, ning ojo ngono” perlu dikaji ulang dalam mewujudkan masyarakat madani. Dalam konsep Islam, masyarakat madani adalah suatu rumah yang berorientasi kepada nilai kebajikan umum dan keunggulan (al-khair)[2].

Arcaro menilai, “Masyarakat menuntut mutu pendidikan dapat diperbaiki, namun masyarakat enggan mendukung dunia pendidikan untuk mengupayakan perbaikan”[3]. Semoga ulasan ini merupakan upaya perbaikan bagi pendidikan yang lebih baik.

Lanjutkan membaca PERAN SD NEGERI KANOMAN GAMPING DIY DALAM PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM PRA MODERN

Ottoman_miniature_painters

 

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM PRAMODERN

 

Paper ini membahas tentang Pemikiran Pendidikan Islam yang berkembang pada periode pramodern. Pemikiran pendidikan mencakup aspek paradigma atau landasan filosofis, tujuan, kurikulum dan manajemen pendidikan. Kajian pemikiran pendidikan Islam tersebut terefleksi melalui pemikiran para tokoh/ ilmuwan maupun catatan sejarah dinamika perkembangan institusi/ lembaga-lembaga pendidikan yang menonjol dan mewakili zamannya.

Periode pramodern ini mengikuti periodisasi Fazlur Rahman (1982), dengan ciri utama pemurnian Islam. Rahman membagi pemikiran pendidikan Islam menjadi 3 fase: pramodern, modern klasik dan kontemporer. Pemikiran pendidikan Islam pramodern memiliki cirri utama pemurnian Islam. Pada periode modern klasik, sekalipun masih memiliki ciri ideologi keagamaan dari periode pramodernis, tetapi ilmu pengetahuan modern sekuler yang berkembang saat itu mendapatkan tempat dalam pengembangan pemikiran pendidikan Islam. Pada periode kontemporer, corak pemikiran Islam memiliki perkembangan yang lebih bermakna, ia lebih bersifat interpretative, yakni memahami prinsip-prinsip al_qur’an dan sunnah untuk memecahkan masalah baru dengan pendekatan hermeunetik.

Berikut ini uraian tentang pemikiran pendidikan Islam yang berkembang di Saudi Arabia, Mesir, Pakistan dan Turki (periode pramodern).

Lanjutkan membaca PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM PRA MODERN

PENDEKATAN KAJIAN ISLAM DALAM STUDI AGAMA

Resume Buku:

PENDEKATAN KAJIAN ISLAM DALAM STUDI AGAMA  |  Richard C. Martin. Surakarta, UMS, 2002

Camera 360

 

SEKILAS TENTANG BUKU

Buku “Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama” ini judul aslinya adalah “Approaches to Islam in Religious Studies” diterbitkan The University of Arizona Press tahun 1985. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Zakiyuddin Bhaidawy. Diterbitkan pertama pada Maret 2001 oleh Muhammadiyah University Press atau Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Cetakan kedua terbit pada Januari 2002. Buku yang diresume kali ini adalah terbitan kedua buku Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama.

Kata pengantar buku yang disunting oleh Richard C. Martin ini diberikan oleh Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah. Sebagai bidang kajian dan penelitian ilmiah, Islamic Studies (Diraasaat Islaamiyyah) bekerja dengan data yang mengandung makna-makna keagamaan dalam masyarakat atau komunitas, kelompok atau individu Muslim. Karena itu, ia sangat membutuhkan bantuan metodologis dari sudut pandang Religionwissenschaft yang mengharuskan para pengkaji untuk memperhatikan secara penuh apa yang dimaksud dengan “beragama” dan “agama” dalam masyarakat Muslim dan oleh para sarjana Muslim.

Lanjutkan membaca PENDEKATAN KAJIAN ISLAM DALAM STUDI AGAMA

LARON & ULAT

Ulat Daun1             Kalau ada sekumpulan anak-anak usia tiga bulan sampai dua tahun di Taman Penitipan Anak, atau sekumpulan anak usia 2-4 tahun dalam Kelompok Bermain atau Satuan PAUD Sejenis, kemudian ada sekumpulan anak usia 4-6 tahun di TK, dan anak usia 7-12 tahun di SD, itu sudah biasa kita dengar dan temui sehari-hari. Namun ketika ada sekumpulan anak dengan usia yang beragam, berkumpul bersama dan saling berinteraksi sosial, seringkali kita tidak percaya bahwa di dalamnya bisa terjadi proses pembelajaran sebagaimana layaknya di sebuah sekolah. “Ah tidak mungkin”, kata sebagian orang. Sebagian lainnya mengatakan, “Lha wong seusia saja  susah untuk mendidiknya, apalagi kok beragam usia. Tidak akan pernah terjadi!”

laron_lampu_api

Cerita berikut diangkat dari sebuah kejadian nyata di Sekolah Balita BirruNA, yang berada di sebuah dusun di Yogyakarta.  Aksa umur enam bulan, Diel umur dua tahun, Widya dua setengah tahun, Amara empat tahun, Salman, Dera dan Ihsan masing-masing empat setengah tahun, Dila lima tahun, Fatta lima setengah tahun, Brian tujuh tahun, Yannas delapan tahun, Dihan sebelas tahun. Sesekali Riswa dan Bima, masing-masing berumur dua setengah tahun, Ara enam setengah tahun, Syifa empat tahun, dan Khansa yang baru berumur satu setengah tahun juga belajar bersama.

Lanjutkan membaca LARON & ULAT

PAUD DAN BUDAYA LOKAL

Menggali Potensi Budaya Lokal untuk Stimulasi Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

S.L. Linawati, S.S.

 

Pada Seminar Sehari tentang Metode Pembelajaran Yang Efektif Pada Pendidikan Anak Usia Dini di Ruang Sidang Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta, 5 Desember 2005, ditampilkan 4 metode, diantaranya: 1. Metode Montessori dari Italia, 2. Tumble Tots (stimulasi psikomotorik) dari Inggris, 3. BCCT (Beyond Centre and Circle Time) dari Florida, dan 4. Pendekatan Alam. Pendekatan yang murni dari Indonesia ini menarik untuk dikaji lebih jauh karena pendekatan ini lebih menekankan pemahaman dan apresiasi terhadap kebudayaan setempat atau budaya lokal. Bagaimana nuansa budaya lokal ini mengkristal dalam penyelenggaraan dan proses belajar-mengajar dalam Pendidikan Anak Usia Dini? Bagaimana masyarakat turut terlibat dan berpatisipasi aktif dalam mencapai tujuan pembelajaran? Bagaimana budaya lokal mewujud dalam denyut nadi lembaga PAUD dan bagaimana itu mampu merembes dalam PAUD di masyarakat?  Kita ikuti paparan berikut.

  Lanjutkan membaca PAUD DAN BUDAYA LOKAL

Meretas Hubungan Ideal Pendidik dan Anak untuk Pengembangan Karakter Anak

Pola Hubungan Ideal Anak-Pendidik untuk Pengembangan Karakter Anak

 

Sri Lestari Linawati, S.S.

 

PENDAHULUAN

Setiap anak, dimanapun ia berada di belahan bumi ini, memiliki persamaan dalam perbedaan warna kulit dan rambutnya; mereka semua sama-sama memiliki karakter yang unik. Setiap anak unik. Perkembangan pengetahuan psikologi mutakhir mengungkapkan bahwa ada potensi multiple intelligent, kecerdasan jamak  yang menyertai kepribadian setiap anak.

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya senantiasa dalam keadaan sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia atau berbudi pekerti yang baik. Ini merupakan harapan setiap orang tua, bahwa anaknya kelak menjadi anak yang berkarakter. Anak yang berkarakter tidak terjadi begitu saja. Ia memerlukan penanganan baik dari orang tua, lingkungan maupun orang lain yang dipercaya menjadi pendidiknya. Orang tua, secara alamiah berkewajiban dan menjadi penanggung jawab utama dalam memenuhi setiap kebutuhan fisik maupun psikis anak menurut kemampuan masing-masing. Lingkungan yang baik, termasuk pendidik yang baik yang dipilih oleh orang tua, juga mendukung tumbuh kembang anak.

Anak yang berkarakter/berwatak  memiliki sifat fleksibel, terbuka, tegas, rencana, percaya diri/mandiri, toleransi, disiplin, orientasi ke depan, dan betakwa. Dalam slogan PAUD dirumuskan secara sederhana karakter anak: Sehat, Cerdas, Ceria dan Berakhlak Mulia. Rumusan itu sederhana namun sarat makna.

Di jaman sekarang ini di saat harga-harga kebutuhan pokok dan bahan bakar fosil (BBM) naik secara drastis, biaya pendidikan yang “tiba-tiba” menjadi serba mahal, serta derasnya arus globalisasi pada perkembangan televisi dan teknologi informasi menjadi tantangan berat untuk mengembangkan karakter anak, baik bagi pendidik maupun orang tua.

Lantas, bagaimanakah hubungan yang ideal antara anak dengan pendidik untuk mengembangkan karakter anak?

  Lanjutkan membaca Meretas Hubungan Ideal Pendidik dan Anak untuk Pengembangan Karakter Anak